Sejarah Terbentuknya Pasukan Khusus di Indonesia

Sejarah Terbentuknya Pasukan Khusus di Indonesia
Ilustrasi Pasukan Khusus Indonesia. Serdadu.ID/ruangkerjo

Serdadu.ID Jika kita melacak tahun sejarah pembentukanya, Pasukan Khusus di Indonesia sebenarnya sudah ada lebih dulu, kita bisa melacaknya di tahun kelahiran TNI di Indonesia. Apabila TNI dibentuk pada kisaran tahun 1950-an, berbeda dengan Pasukan Khusus yang sudah ada sejak zaman kemerdekaan tahun 1945.

Adapun dalam sejarah militer kuno, di Nusantara sendiri kita memiliki referensi pasukan khusus seperti halnya Pasukan Bhayangkara era Kerajaan Majapahit. Untuk referensi di luar Nusantara sendiri, kita bisa lihat pada era Kekaisaran Persia tahun 550-330 SM.

Ada sebuah pasukan pengawal Raja yang disebut kaum abadi dan selalu memiliki jumlah tidak kurang dari sepuluruh ribu orang, pasukan itu dinamai sebagai Immortal. Di era Romawi Kuno (280 SM- 476 M) juga ada kelompok pasukan masyhur yang tugasnya melindungi Kota dan Kaisar, pasukan ini disebut Pengawal Praetoria.

Pasukan Khusus di Indonesia Setelah Masa Kemerdekaan

Akibat gerakan sparatisme dan pemberontakan yang kian marak terjadi mendorong keberadaan Pasukan Khusus semakin dibutuhkan, maka saat bertugas Alex Kawilarang yang waktu itu menjabat sebagai Panglima Divisi Siliwangi tetap melanjutkan keinginannya yaitu membentuk Pasukan Khusus yang permanen. Keinginan ini di dorong dengan peristiwa pemberontakan DI/TII yang kian massif.

Baca Juga:

Selain itu dinamika dalam negeri juga berpengaruh, dimana Tentara Indonesia harus melawan pemberotakan-pemberontakan yang terjadi di daerah-daerah. Hal ini semakin menunjukan bahwa Pasukan Khusus itu harus segera dibentuk. Pemberontakan yang berkaitan langsung dengan pembentukan Pasukan Khusus ini momentumnya dipicu oleh pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS) dan pemberontakan Darul Islam, Tentara Islam Indonesia (DI/TII) di Jawa Barat.

Kemudian untuk mewujudkan ide besar tersebut, Alex Kawilarang giat berkonsolidasi dengan Mayor Suwarto. Hasil dari diskusi tersebut muncullah Visser, bekas KST baret merah yang memiliki pengalaman pada Perang Dunia II. Visser di panggil untuk mengahdapi DI/TII di Jawa Barat.

Upaya awal pihak militer dalam membentuk pasukan khusus ini adalah dengan mengadakan combat intelegence. Prajurit yang  lulus dari combat intelegence akan menjadi pelatih calon pasukan khusus. Hasilnya, satu kompi pasukan komando dihasilkan pada pelatihan angkatan pertama.

Baca Juga:

Pada tahun 1953 kompi ini berhasil dalam menjalankan misi penumpasan dan penyergapan dalam operasi penumpasan DI/TII. Sontak hal tersebut menarik perhatian markas besar Angkatan Darat di Jakarta.

Dinamika terbentuknya Pasukan Khusus di Indonesia

Pasukan Khusus Angkatan Darat Indonesia mulai terbentuk yang dilatarbelakangi oleh dinamika politik-militer dalam negeri. Kemudian Panglima Tentara Indonesia segera mengeluarkan perintah agar Pasukan Khusus yang tadinya hanya berada di bawah lingkup Teritorium III/Siliwangi untuk dibentuk secara nasional. Menindak lanjuti perintah itu maka dikeluarkan Surat Perintah Panglima No. 55/intrs/PDS, surat itu berisikan tentang perintah pembentukan Pasukan Khusus dengan skala nasional.

Pada awal pembentukannya ada sebanyak 27 orang perwira, bintara, dan tamtama yang kemudian menjadi anggota KESKO III/Siliwangi. Mereka memiliki tugas sebagai staf operasi, selain itu ada juga yang merangkap sebagai pelatih. Kegiatan awal pembentukan Pasukan Khusus ini diawali dengan penyusunan staf pendidikan dan latihan untuk melatih kemampuan khusus berkualifikasi komando bagi prajurit-prajurit yang nantinya akan tergabung dalam Pasukan Khusus Indonesia.

Guna membentuk Pasukan Khusus yang berkualitas Panglima TT III/Siliwangi meminta bantuan kepada Mayor. Rokus Bernandus Visser aliass Moch. Idjon Djambi sebagai perancang grand design Pasukan Khusus Indonesia.

Baca Juga:

KKAD yang semula berada dalam operasional MABES AD ditingkatkan keorganisasiannya menjadi setingkat Resimen yang berada di bawah satuan kerja MABES ABRI. Melalui Surat Keputusan Panglima Menteri Pertahanan No.25.265/MENHAN/kpts/1955 KKAD tidak lagi berada dalam operasional MABES AD, melainkan dibawah Komando Utama Tempur MABES ABRI.

Berdasar pada surat keputusan itu dirubah pula nama kesatuan ini dari Korps Komando Angkatan Darat (KKAD) menjadi Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD). Pada upacara peresmian yang dipimpin langsung oleh panglima tertinggi ABRI yaitu Drs. Moch. Hatta sebagai inspektur upacara, ditunjuk sebagai komandan RPKAD yaitu Mayor Idjon Djambi dan Wakil Komandan Mayor R.E Djaelani. Dalam pembinaan MABES ABRI pasukan ini terus ditingkatkan kemampuannya baik secara jumlah personel maupun kualitasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.